Search This Blog

Senin, 23 Agustus 2010

Dulu Polisi Berprestasi, Kini Jadi Penjahat

Post a comment

VIVAnews - Publik di Filipina tersentak oleh drama pembajakan bus yang mengangkut para turis di Ibukota Manila, Senin 23 Agustus 2010. Yang memprihatinkan, pelaku pembajakan selama sepuluh jam itu adalah seorang mantan perwira polisi yang semasa berkarir telah mendapat belasan medali penghargaan.

Pelaku adalah Rolando Mendoza. Terakhir berpangkat Inspektur Senior, Mendoza menjadi polisi selama 29 tahun. Namun aksi yang dia lakukan kemarin tidak menunjukkan dirinya sebagai mantan polisi yang disegani, melainkan sebagai penjahat yang tega menyandera orang-orang yang tak bersalah.

Dari sekitar 25 turis yang dia sandera, sedikitnya delapan orang dinyatakan tewas. Semua korban berasal dari Hong Kong.

Hingga kini, masih diselidiki apakah para korban tewas akibat tembakan Mendoza atau terjebak dalam penyerangan yang dilakukan satuan elit Kepolisian Filipina, SWAT. Mendoza sendiri tewas diberondong peluru saat penyerbuan berlangsung di Rizal Park.

Juru bicara Kepolisian Filipina, Superintenden Senior Agremiro Cruz, mengungkapkan bahwa semasa aktir bertugas Mendoza menerima sedikitnya 14 penghargaan. Bahkan, pria berusia 55 tahun ini pada 1986 terpilih sebagai salah satu dari sepuluh polisi terbaik di Filipina versi lembaga survei Jaycess International.

Namun, menurut Cruz, Mendoza belakangan dicap sebagai "polisi kotor." Pasalnya, dia terlibat atas sejumlah kasus, seperti penyerangan fisik, ancaman, hingga berperilaku tidak pantas - semisal perampokan dan pemerasan.

"Polisi yang baik seharusnya tahu bagaimana mengikuti aturan dan sadar akan perbuatannya," kata Cruz, seperti yang dikutip laman harian The Manila Times.

Itulah sebabnya, pada 16 Februari 2009, Mendoza dipecat secara tidak hormat dari kepolisian. Dia pun tidak mendapat tunjangan pensiun setelah Komisi Ombudsman pada 2008 menyatakan dia bersalah atas perbuatan yang tidak pantas, yaitu perampokan dan pemerasan.

Sebelum dipecat, Mendoza pun diskors selama 90 hari. Dia tadinya bakal dimutasi dari Manila ke kawasan Mindanao, namun sudah terlanjut ditendang keluar dari kesatuan.

Jelang penyerbuan SWAT, Mendoza mengungkapkan tuntutannya. Dia minta agar kepolisian menerima dia kembali, termasuk bisa mendapatkan tunjangan sebagai polisi. Namun, tuntutan itu tidak dipenuhi dan pertumpahan darah pun tidak bisa terhindar.

Posting Komentar

FB Comments